Salam mejuah-juah man banta kerina…
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan artikel
mengenai Cerita
Rakyat Karo yang berjudul
Asal Usul Nama Gunung Sibayak .Adapun tujuan saya membagikan artikel ini adalah agar
kita selaku orang karo (kalak karo) jangan pernah untuk melupakan Cerita Rakyat
Karo yang ada sebagai bagian dari tradisi dan budaya kita orang karo.
Oke langsung saja
Berikut ini adalah salah satu dari Cerita Rakyat Karo
yang populer:
Asal Usul Nama Gunung Sibayak
Saya pernah dengar cerita dari Nini Bulang saya mengenai Gunung
Sibayak, asal usul nama dari Gunung Sibayak, kenapa namanya dibuat Sibayak Pada
zaman dulu katanya ada satu keluarga yang tinggal di Tanah Karo tidak jauh dari
lereng Gunung Sibayak yang sangat miskin dan dia mempunyai dua orang Putra,
Kira-kira putra yang pertama pada umur 17 tahun dan putra kedua berumur 15
tahun. Ayah mereka terserang penyakit dan meninggal dan satu tahun kemudian
menyusul juga Ibu dari anak tersebut sakit dan meninggal juga. Jadi tinggal-lah
dua putranya menjadi anak melumang ( Yatim piatu ), begitulah mereka menjalani
hari-hari tanpa didampingi Ayah dan Ibu.
Waktu berjalan padi yang ditinggalkan semasa Ayah dan Ibu mereka
masih hidup sudah berangsur-angsur habis. Mau tidak mau dua putra tersebut
mencari lahan yang baru dan subur bermaksud ingin menanam padi. Merekapun sudah
mendapatkan lahan yang mereka anggap subur dan bagus sekali untuk ditanami padi
tepatnya tidak jauh dari lokasi tempat mereka tinggal dilereng Gunung Sibayak
yang dulunya nama gunung tersebut belum dinamakan Gunung Sibayak tentunya.
Jadi kedua putra tersebut sepakat menggarap dan membuka lahan
tersebut dan mereka tanpa pikir panjang selesai membuka lahan, dibakar dan
dibersihkan dan segera mereka langsung menanaminya padi. Hari-hari berjalan
padi yang mereka tanam tumbuh bagus karena memang lahan baru yang sangat subur
tentunya. pada umur kira-kira 2,5 bulan padi yang tumbuh subur sudah rata
mengeluarkan buahnya dan sangat indah untuk dipandang mata. Mulai pada saat itu
jugalah kedua putra tersebut harus setiap hari mulai dari pagi sampai matahari
terbenam selalu berada diladang untuk menjaga padi mereka dari hama Babi hutan
dan Monyet yang pada saat itu masih sangat banyak sekali.
Disela-sela mereka menjaga padi mereka juga meratakan sedikit
tanah bermaksud ingin mendirikan sebuah Pantar atau bisa disebut gubuk kecil
yang tinggi untuk memantau sekeliling ladang mereka dari atas. Pada saat mereka
menggali dan meratakan lokasi Pantar tersebut tiba-tiba anak bungsu dari dua
putra tersebut tersentak dan sedikit terkejut mendengar benturan alat yang dia
tancapkan ketanah seakan-akan mengenai sebuah batu atau besi yang apabila
berbenturan dengan benda keras lainnya mengeluarkan api.
Sibungsu inipun dengan segera memanggil saudaranya dan mereka
menggali dan mengeluarkan benda tersebut. Setelah mereka berhasil mengeluarkan
benda tersebut rupanya mereka menemukan sebuah priuk ( Kudin ) tertutup rapi
yang terbuat dari kuningan pada zaman dulu.
Mereka berdua juga bertatapan mata yah pastinya dihati perasaaan
sedikit senang lumayan bisa buat masak nasi atau merebus air ditengah ladang.
Setelah dibersihkan bagian luar benda tersebut dan mereka bermaksud
membersihkan bagian dalamnya rupanya didalam priuk tersebut ada sebuah benda
kira-kira sebesar 2 gepalan tangan orang dewasa. Mereka langsung mengeluarkan
benda tersebut dan mengusap-usap bagian luarnya, benda itu mulai kelihatan
berkilau dan berwarna kuning.
Kedua putra tersebut semakin penasaran dan ingin mengetahui
lebih jelas apa barang tersebut walaupun dalam benak mereka berdua sudah ada
kemungkinan barang tersebut Emas yang sengaja disimpan tuan-tuan tanah yang
kaya raya karena takut dirampas oleh musuh-musuhnya. yang tertua dari kedua
putra tersebut langsung menggigit bagian tepi benda tersebut hasilnya bekas
gigi anak tersebut langsung melesup dan meninggalkan bekas sepertinya tidak
sekeras batu atau besi yang apabila digigit tidak akan melesup dan meninggalkan
bekas.
Putra sulung dari kedua putra tersebut semakin merasa pasti
bahwa benda tersebut adalah Emas dan dia juga langsung memastikan kepada
adiknya kita akan kaya raya karena ini adalah emas peninggalan nenek moyang
Zaman dulu dan memang anggapan mereka benar karena memang benar barang yang
mereka temukan itu adalah Emas.
Matahari semakin redup, haripun sudah mulai gelap, kedua putra
tersebut sepakat untuk pulang dan membawa benda yang mereka temukan ke-Gubuk
yang tidak begitu jauh dari ladang itu. Pada malam hari selesai santap malam
kedua putra tersebut juga kembali berembuk bagaimana caranya supaya benda
tersebut bisa dijual dan akan mendapatkan uang yang banyak tentunya.
Kesepakatanpun akhirnya mereka dapatkan dimana kalau kedua Putra
tersebut pergi ke Kota untuk menemui pembeli barang tersebut
tidak bisa dilakukan, sebab salah satu orang harus menjaga padi
mereka diladang dari hama babi dan monyet yang sangat ganas dan siap
menghabiskan padi yang sudah mulai menguning.
Keputusanpun akhirnya diambil bahwa putra sulung akan pergi
keKota untuk menjual benda yang mereka temukan tersebut dan anak yang bungsu
tetap pergi keladang untuk menjaga padi dengan kesepakatan akan mebawa semua
hasil penjualan keladang dan pastinya dibagi sama rata.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali kedua putra tersebutpun
beranjak pergi dimana yang bungsu berangkat keladang dan yang Sulung berangkat
keKota.
Tibalah putra yang sulung ditempat berkumpulnya orang-orang kaya
biasanya berjual beli sesuatu yang dibutuhkan termasuk kebutuhan sehari-hari
seperti beras, sayur-sayuran, cabe, ayam, Kuda dan sebagainya yang tentunya
datang dari berbagai daerah.
Mulailah putra sulung ini mendekati sekumpulan orang yang dia
anggap bisa membeli benda yang dia temukan itu. tawar menawarpun hargapun
akhirnya terjadi, tapi karena tawaran dari pembeli ini belum dianggap pantas
maka putra sulung ini melanjutkan perjalanannya ketempat yang lebih rame yaitu:
Kaban Jahe, disitu ia langsung menemui sekumpulan orang yang dianggap juga bisa
membeli barang tersebut.
Tawar menawar hargapun kembali terjadi, salah satu dari yang
menawar ini yang sangat kaya raya saat itu tertarik karena dia sudah bisa
memastikan langsung bahwa benda itu adalah Emas dan dia langsung mengajak putra
sulung ini kerumahnya dan menawarkan lembaran uang kertas tertinggi pada saat
itu satu karung ditukar dengan benda tersebut tanpa dihitung berapa jumlahnya.
Putra sulung inipun tidak berpikir panjang dan menerima tawar
orang tersebut karena uang yang ditawarkan itu memang sangat banyak sekali
jumlahnya. Dengan uang sebanyak itu bisa langsung membuat dia sebagai orang
yang sangat kaya raya. Putra sulung inipun langsung mengikat sebelah dari
lobang sarung yang ia selempangkan dari ladang dan memasukkan uang tersebut.
Dia memasukkan uang kertas tersebut sambil menekan-nekan supaya
muat kedalam sarung tersebut dan dia langsung mengikat lobang sarung yang
satunya seolah-olah seperti dia memabawa hasil panen dari ladang dan siapapun
tidak menyangka bahwa isinya sebenarnya adalah uang.
Tanpa berbasa-basi yang panjang putra sulung inipun langsung
berpamitan pulang dan membawa karung tersebut menelusuri jalan
pulang. Pastinya dia akan kembali jalan kaki melewati Berastagi
menuju lereng Gunung Sibayak yang kita sebut sekarang.
Sesampainya di Berastagi dia berhenti sebentar untuk melepas
dahaga karena maklum berjalan kaki dari Kabanjahe ke Berastagi ternyat cukup
melelahkan dirinya. Dipemberhentiannya itulah pikiranpun mulai berdatangan
silih berganti maksud hatinya mau dibagaimanakan uang tersebut. Diapun beranjak
dari pemberhentiannya setelah mengeluarkan beberapa lemabar uang tersebut dan
menghampiri para penjaja makanan yang mereka sangat idam-idamkan dirumah selama
ini.
Putra sulung tersebut juga membungkus makanan-makanan tersebut
dengan jumlah yang lumayan banyak sekali. Tak lupa juga dari situ dia mampir
ketoko-toko kecil yang ada dipinggiran jalan yang biasa dibuka para pendatang
untuk menjajakan
penyubur dan pembasmi hama-hama tanaman.
Hari sudah sore putra sulung tersebutpun bergegas untuk
melanjutkan perjalanan pulang keladang maklum tidak
menyiapkan obor untuk persiapan apabila kemalaman dijalan.
Kira-kira setengah jam lagi perjalanan sampai digubuk putra sulung inipun
kembali berhenti dan membuka semua makanan yang dia beli tadi, tidak lupa juga
sekalian membuka bungkusan kecil yang dia beli dari Toko-toko kecil yang
menjajakan penyubur dan pembasmi hama tersebut.
Tanpa berpikir panjang diapun mengaduk bahan itu kedalam semua
makanan yang dia bawa maksud hati supaya isi dari ikatan sarung yang dia bawa
tidak akan ada perbagian dan menjadi milik sendiri. Diapun cepat-cepat
meneruskan perjalanan pulangnya ke Gubuk tua peninggalan dari orang tuanya
tersebut, sesampainya di Gubuk dia tidak menemukan adiknya, memang hari belum
begitu gelap sudah pasti adiknya masih diladang untuk menjaga padi dari
ganasnya hama.
Tanpa menurunkan satupun barang yang dia bawa diapun langsung
bergegas menuju ladang bermaksud menemukan sang adik.
Keseharian adiknya yang menjaga padi dari hama-hama tersebut
rupanya perasaan yang sama juga dia rasakan, bagaimana dan diapakan nanti uang
tersebut apabila si Abang datang dan akan membawa uang yang sangat banyak.
Semenjak itu juga dia lengah manjaga padi dan dia bergegas untuk memasang
ranjau ( Ragem ) yang terbuat dari tajamnya bambu dan ditarik penyambuk kayu
yang dilengkungkan.
Disetiap jalan masuk dari Gubuk mereka yang menuju ladang sudah
terpasang rapi dan siap menelan korban apabila tersentuh seutas tali yang
dikaitkan ke penyambuk tersebut. Memang Inisiatip sang adik pas sasaran karena
putra sulung yang lagi tergesa-gesa menuju ladang langsung terperanjak dan
bersimbah darah tanpa sempat memberikan kata-kata terakhir.
Putra bungsu itupun langsung menghampiri abangnya, dia menemukan
abangnya yang sudah tidak bernyawa dia tidak menghiraukan abangnya dan langsung
membuka bungkusan sarung yang dibawa abangnya tersebut. Putra bungsu
tersebutpun kagum dan sangat senang melihat uang kertas yang sangat begitu
banyak. Disitulah dia melihat bungkusan satunya yang belum sempat lepas dari
genggaman abangnya itu. Pelan-pelan dia menarik bungkusan itu dan membukanya,
perasaan senangpun kian bertambah karena melihat isinya semua makanan yang
sangat enak.
Tanpa berpikir panjang diapun langsung menyantap makanan itu
maklum lapar seharian menjaga padi diladang. belum selesai menghabiskan makanan
itu putra bungsu inipun sudah mulai merasakan mual bercampur pusing tanpa
pergerakan yang jauh
diapun terjatuh dan meninggal.
Dari cerita inilah diketahui tidaklah ada orang yang kaya (
Bayak ) semua kembali ke Gunung itu, Gunung itulah yang sebenarnya kaya ( Bayak
) maka disebutlah dia Gunung Sibayak.
Demikianlah
artikel mengenai Cerita
Rakyat Karo yang berjudul Asal-Usul Nama Gunung Sibayak .Semoga dapat menambah
wawasan bagi kita semua selaku orang karo dan membuat kita semakin mencintai
adat,tradisi,dan budaya orang karo…
Salam Mejuah-Juah…


0 komentar:
Posting Komentar